Derivat Gondorukem dan Terpentin
Pabrik Derivat Gondorukem dan Terpentin
Berawal dari keinginan untuk mengembangkan teknologi hilir getah pinus, pada tahun 2009, pihak Manajemen Perum Perhutani berinisiatif mengeluarkan kebijakan untuk berinvestasi sekaligus menguasai teknologi pengolahan getah pinus menjadi senyawa turunannya. Setelah itu, dilakukan beberapa kali Focus Group Discussion (FGD) pada tahun 2010 yang bertujuan untuk membahas teknologi pengolahan terpentin dan gondorukem. FGD ini dilakukan dengan tim peneliti dari perguruan tinggi, seperti ITB, IPB, UGM, dan juga lembaga lain seperti BPPT dan Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKKPII). Hasil FGD mendorong Perum Perhutani untuk mengarahkan pengembangan teknologi ini ke arah komersial, seperti dengan feasibility study (FS), Basic Engineering, dan pelelangan. Pengembangan ke arah komersial ini diawali dengan tahap FS yang dilakukan oleh Perum Perhutani dan PT. Pasadena Engineering Indonesia pada tahun 2010 dengan metode AHP yang mempertimbangkan empat faktor, yaitu teknologi sendiri, produk yang diminati pasar, bahan baku dan bahan penolong, dan sumber daya manusia. Semangat pengembangan teknologi hilir getah pinus Perum Perhutani mendorong dilakukannya banyak penelitian tentang produksi derivatif getah pinus di perguruan tinggi seperti ITB, IPB, UGM, dan BPPT. Pada tahun 2011 hingga awal tahun 2012, PT. Pasadena Engineering Indonesia, PT. Tracon Industri (anak perusahaan PT. Rekayasa Industri), PT. Rekayasa Industri, dan BPPT melakukan pengembangan pabrik skala pilot.

Selanjutnya, dilakukan tahap perekayasaan, pengadaan, dan konstruksi (engineering procurement and construction/EPC) yang dilaksanakan oleh PT. Rekayasa Industri. Pabrik derivat gondorukem dan terpentin yang telah diselesai proses konstruksinya. Keputusan yang berani dari manajemen Perum Perhutani untuk mengembangkan teknologi hilir getah pinus membuahkan hasil berupa teknologi sekaligus pabrik produksi derivatif getah pinus yang dikembangkan seluruhnya oleh tangan Bangsa Indonesia.

Gondorukem dan terpentin merupakan produk dari tanaman pinus. Gondorukem adalah padatan seperti getah kering dari pohon pinus sementara terpentin adalah cairan tak berwarna atau kuning pucat dari getah pinus. Indonesia merupakan salah satu negara utama penghasil gondorukem dan terpentin di dunia setelah China dan Brazil. Pada tahun 2010, Indonesia memproduksi 60.000 ton gondorukem sementara China dan Brazil berturut-turut 800.000 ton dan 76.000 ton. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa China dan Brazil melakukan pengolahan getah pinus menjadi senyawa turunannya seperti derivat gondorokum dan terpentin yang menghasilkan nilai tambah. Salah satu senyawa turunan gondorukem adalah rosin ester, yaitu sebagai bahan baku sebagai  bahan baku industri perekat,cat tinta, stensil, dan aplikasi elektronik. Sementara itu, senyawa turunan  terpentin antara lain:
  • alpha-pinen sebagai bahan baku sebagai bahan baku senyawa kimia lain,
  • Terpineol sebagai bahan baku untuk industri fragnance, sabun, dan kosmetik,
  • Cineol sebagai bahan baku untuk industri fragnance, rasa, dan kosmetik,
  • beta-pinen sebagai bahan baku untuk industri fragnance dan resin,
  • delta-carene sebagai bahan baku untuk fragnance, dan
  • delta-limonen sebagai bahan baku untuk industri kosmetik, sabun, dan insektisida.

Pabrik yang dibangun dan dikembangkan di daerah Pemalang ini terdiri dari empat unit produksi, antara lain
  1. Unit pengolahan getah pinus menjadi gondorukem dan terpentin (unit produksi gondorukem dan terpentin),
  2. Unit pengolahan gondorukem menjadi gliserol rosin ester (unit proses derivat gondorukem),
  3. Unit fraksinasi terpentin menjadi produk turunannya (unit produksi fraksionasi terpentin), dan
  4. Unit pengolahan alpha-pinen menjadi terpineol dan cineol (unit produksi derivat terpentin).

Teknologi yang dikembangkan pada pabrik ini antara lain teknologi fraksionasi terpentin dengan menggunakan proses distilasi vakum dan teknologi produksi derivat terpentin dengan menggunakan proses dehidrasi katalitik. Katalis yang digunakan dalam teknologi ini antara lain asam fosfat dan toluen.

Perum Perhutani sebelumnya telah memiliki teknologi produksi gondorukem dan terpentin dan teknologi derivat gondorukem. Akan tetapi, kedua teknologi ini telah dimiliki Perhutani sebelumnya namun masih menggunakan spesifikasi getah pinus luar negeri. Pada pengembangan pabrik di Pemalang ini, dilakukan optimasi untuk kedua teknologi tersebut untuk spesifikasi getah pinus Indonesia. Hal ini disebabkan karena getah pinus Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan getah pinus luar negeri, yaitu pada kandungan senyawa gum dan terpentin.

Dengan adanya pengembangan pabrik ini, Perum Perhutani memiliki teknologi baru sekaligus pabrik produksi derivat gondorukem dan terpentin yang dapat memproses getah pinus menjadi produk derivat gondorukem dan terpentin yang sebelumnya selalu diimpor sehingga dapat mengurangi ketergantungan Indonesia dari impor, terutama dari Brazil dan China yang kini menjadi kompetitor produksi derivat gondorukem dan terpentin. Di samping itu, peningkatan harga gondorukem dan terpentin menjadi senyawa derivatnya menghasilkan keuntungan berlipat.

Spesifikasi empat unit produksi di pabrik derivat gondorukem dan terpentin, antara lain:
  1. Unit produksi gondorukem dan terpentin dengan kapasitas produksi: 17.100 ton gondorukem/tahun dan 3.400 ton terpentin/tahun,
  2. unit produksi derivat gondorukem dengan kapasitas produksi: 18.000 ton gliserol rosin ester/tahun,
  3. Unit produksi fraksinasi terpentin dengan kapasitas olah: 7.500 ton terpentin/tahun, dan

Unit produksi derivat terpentin kapasitas produksi 1.800 ton terpineol/tahun dan 180 ton cineol/tahun.